Ganjar Pranowo: Soekarnois Jangan Hanya Jadi Penonton | Capres Rakyat

header ads header ads
header ads header ads

Foto: Deklarasi Relawan Barisan Sukarnois/GEMINI CLUB SULTRA.


JAKARTA, GEMINI CLUB SULTRA - Ganjar Pranowo meresmikan dan mendeklarasikan Relawan Barisan Sukarnois di Markas Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) , Kawasan Cikini Jakarta Pusat. (Sabtu, 3 Juni 2024). 


Relawan Barisan Sukarnois dibentuk oleh PA GMNI di Jakarta, sebelum alumni GMNI dari kalangan kaum muda juga telah resmi mendeklarasikan Relawan Gerakan Menangkan Indonesia Club yang kemudian disingkat menjadi GEMINI Club yang juga dihadiri Ganjar Pranowo.


Guntur Sukarnoputra yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI berpidato, dan menggambarkan sosok Ganjar Pranowo sebagai seorang Sukarnois tulen: berani, bijak bukan bijaksana, karena bijaksana bisa diartikan ‘bijak sana, bijak sini, dan mengerti marhaenisme ajaran Bung Karno.


"Parameter tersebut menjadikan Ganjar Pranowo sebagai seorang marhaenis komplit. Tak Seorang kader ideologis. Tak perlu ditagukan lagi," ungkap Mas Thok panggilan akrab Guntur Sukarnoputra.


Sebelumnya Guntur Sukarnoputra telah mendukung Ganjar Pranowo, jauh sebelum penetapan capres oleh PDIP. Mas Thok pula yang menelpon Ganjar Pranowo untuk datang malam itu meresmikan deklarasi Barisan Sukarnois yang dihadiri ratusan kader. Belum terhitung yang mengikuti secara online.


Disisi lain, Ganjar Pranowo yang turut hadir sebagai Bacapres yang didukung oleh Relawan Barisan Sukarnois, menyoroti isu pemberantasan terorisme serta keniscayaan era digital dan ia juga mengajak kaum nasionalis-sukarnois untuk berperan aktifis. Tidak lagi pasif dan hanya jadi penonton di medsos.


Keniscayaan era digital dihadapan para sukarnois yang hadir secara luring dan daring (hybrid), Ganjar Pranowo berpesan “Suka tidak suka sekarang kita harus mengikuti era digital, era medsos dengan bermacam instrumennya: IG, Facebook, Twitter, WA, dan lain-lain.


"Para pengikut Sukarno, baik itu kelas pengagum, penghayat, hingga level ideolog seakan dikomando oleh Ganjar untuk “bertarung” dan mengasah tanduknya di dunia maya. Merangkul gen-Zillenials dan gen-Milenials. Di era platform digital saat ini, pengaruh medsos sangatlah tinggi dalam sistem komunikasi dan informasi," kata Ganjar dalam orasinya. 


Selain itu, Ganjar Pranowo juga mengingatkan agar jangan sebar hoax apalagi fitnah, penuhi medsos dengan konten-konten positif, dan hindari keributan dan permusuhan dengan pendukung calon lainnya.


Sikapnya juga yang menolak kehadiran tim sepak bola Israel dengan berani ia suarakan. Hal itu akhirnya menimbulkan pro-kontra dan mempengaruhi elektabilitasnya. 


Sikap ideologis tersebut dapat dilacak dengan merujuk pada sang Guru Besar (Bung Karno) yang menolak membuka kedutaan Israel karena masih menerapkan politik apartheid, diskriminatif, dan menjalankan politik SARA hingga kini, khususnya terhadap bangsa Palestina.


"Saat ini di dunia hanya Israel yang masih berlakukan politik apartheid. Dulu ada Afrika Selatan, namun sekarang sudah ‘tobat’ sejak kepemimpinan Nelson Mandela yang berani, bijak dan karismatik," ujarnya lagi. 


"Sejak apartheid dihapuskan, Afsel menjadi negara damai dan rukun. Selain apartheid, Israel juga masih melakukan “aneksasi” dan kolonisasi terhadap sebagian wilayah Palestina. Palestina adalah bangsa di Timur Tengah yang awal-awal mendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia, selain Mesir, Lebanon, Suriah, Arab Saudi, dan Irak," sambungnya.


Dengan tingkat kedalaman wawasan pada ajaran Bung Karno, Ganjar Pranowo tahu persis bahwa Pancasila dan Marhaenisme sangat menentang terorisme dan imperialisme dengan segala varianya.


Termasuk dunia Pendidikan, pun harus “dibersihkan” dari penetrasi dan gerakan terselubung para teroris. Selama ini medsos dan internet menjadi wahana penyebaran konten terorisme.


Ganjar Pranowo mengajak Barisan Sukarnois berani berperang terbuka di medsos melawan itu semua sebagai wujud satunya kata dengan perbuatan.


"Ini merupakan signal bahwa isu dan aksi-aksi terorisme belum punah. Mungkin sedang “hibernasi”, tiarap menunggu momentum. Harus ada kekompakan masyarakat untuk menggarap sosmed dengan konten-konten positif dan menghalau konten negatif, hoax, serta konten pro-terorisme. Terorisme merusak keadaban publik, memporak-porandakan kerukunan umat dan perdamaian dunia," tandasnya. 


Dalam konteks ini, Ganjar Pranowo seolah mengajak kita agar konsisten pada sebuah pesan pendiri bangsa dalam Pembukaan UUD45, yaitu berperan aktif menciptakan perdamaian dunia yang abadi.***


Penulis: Bob Randilawe, M.Hum / Pemerhati Politik & Ekologi dan Waketum Gerakan Bhinneka Nasionalis (GBN) bidang Ideologi.


Tulisan ini sebelumnya sudah diterbitkan oleh media sinerginews.co.id

Post a Comment

Silahkan komentar dengan objektif, Komentar anda adalah masukkan bagi kami !!!

Lebih baru Lebih lama